Minggu, 31 Januari 2016

43 MODEL PEMBELAJARAN UNTUK MENGAKTIFKAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN

Oleh:
Adi Saputra, M.Pd


Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan Model Pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Berikut ini 43 model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam pembelajaran. Namun model-model ini bukan lah sesuatu yang kaku masih dapat ditambah atau digabung beberapa  model dalam satu kali pertemuan. Di samping itu juga model-model ini kita terapkan tergantung dengan karakteristik mata pelajaran, waktu, sarana prasarana, intake siswa, dan faktor lainnya yang sesuai dengan kondisi di satuan pendidikan masing-masing. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat.

1.              PICTURE AND PICTURE
Langkah-langkah :
1.         Menyajikan materi sebagai pengantar
2.    Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi
3.         Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
4.      Menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
5.         Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut
6.   Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
7.        Kesimpulan/rangkuman.

2.             DEMONSTRATION
Model ini digunakan khusus untuk materi yang memerlukan peragaan atau percobaan.
             Langkah-langkah :
1.         Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
2.         Guru menyajikan gambaran sekilas materi yang akan dismpaikan.
3.         Siapkan bahan atau alat yang diperlukan.
4.         Menunjukan salah seorang siswa untuk mendemontrasikan sesuai skenario yang telah disiapkan.
5.         Seluruh siswa memperhatikan demontrasi dan menganalisa
6.   Tiap siswa atau kelompok mengemukakan hasil analisanya dan juga pengalaman siswa didemontrasikan
7.         Guru membuat kesimpulan.

3.             EXPLICIT INTRUCTION
Merupakan model pembelajaran langsung khusus dirancang untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan proseduran dan pengetahuan deklaratif yang dapat diajarkan  dengan pola selangkah demi selangkah. Model  ini dikembangkan oleh  Rosenshina & Stevens tahun 1986.
Langkah-langkah :
1.         Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa
2.         Mendemonstrasikan pengetahuan dan ketrampilan
3.         Membimbing pelatihan
4.         Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
5.         Memberikan kesempatan untuk latihan lanjutan

4.              PENAMPILAN ACAK
Model ini merupakan pengembangan dari penulis sendiri untuk memaksimalkan atau melihat kemampuan siswa di dalam pembelajaran. Selain itu juga dapat menghidupkan suasana kelas.
Langkah-langkah:
1.            Menyampaikan tujuan pembelajaran.
2.            Menyajikan materi.
3.            Memberikan contoh.
4.         Mengecek pemahaman dengan cara siswa tampil menjelaskan konsep atau mengerjakan soal. Siswa yang tampil secara acak (misalnya melihat tanggal hari itu, maka siswa yang tampil sesuai dengan tanggal yang dicocokkan dengan nomor urut di daftar hadir di kelas).
5.      Seandainya siswa tidak bisa menjelaskan atau mengerjakan soal, maka siswa diminta untuk menampilkan kebolehannya di depan kelas (misal menyanyi, dll).
6.           Guru menyimpulkan.

5.              EXAMPLES NON EXAMPLES
Contoh dapat dari kasus atau gambar yang relevan dengan KD.
Langkah-langkah :
1.         Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.
2.         Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP/LCD.
3.        Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/menganalisa gambar.
4.         Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas.
5.         Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya
6.      Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai.
7.         Kesimpulan.

 6.              COOPERATIF SCRIP
Merupakan model belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang dipelajari.
Langkah-langkah :
1.         Guru membagi siswa untuk berpasangan.
2.         Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan.
3.         Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar.
4.         Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya.
Sementara pendengar :
             Menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap.
            Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya.
5.         Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Serta lakukan seperti diatas.
6.         Kesimpulan Siswa bersama-sama dengan Guru.
7.         Penutup.

7.              KEPALA  BERNOMOR TERSTRUKTUR
Merupakan model pengembangan dari Number Heads (Kepala Bernomor) yang dipakai oleh Spencer Kagan. Teknik Kepala Bernomor Terstruktur ini memudahkan pembagian tugas. Dengan teknik ini, siswa belajar melaksanakan tanggung jawab pribadinya dalam saling keterkaitan dengan rekan-rekan kelompoknya. Teknik ini bias digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.
Langkah-langkah :
1.         Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
2.         Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomorkan terhadap tugas yang berangkai.
Misalnya : siswa nomor satu bertugas mencatat soal. Siswa nomor dua mengerjakan soal dan siswa nomor tiga melaporkan hasil pekerjaan dan seterusnya.
3.         Jika perlu, guru bisa menyuruh kerja sama antar kelompok. Siswa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja sama mereka.
4.         Laporkan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain.
5.         Kesimpulan.

8.              STUDENT TEAMS-ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD)
Model ini berarti tim siswa kelompok prestasi, yang dikembangkan oleh Slavin tahun 1995.
Langkah-langkah :
1.         Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll)
2.         Guru menyajikan pelajaran
3.         Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya tahu menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
4.         Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu
5.         Memberi evaluasi.
6.         Kesimpulan.

9.             JIGSAW (MODEL TIM AHLI)
Merupakan model yang dikembangkan oleh Aronson, Blaney, Stephen, Sikes, dan Snapp tahun 1978. Teknik ini bisa digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan ataupun berbicara. Model ini bisa pula digunakan dalam beberapa mata pelajaran, seperti ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, matematika, agama, dan bahasa. Teknik ini cocok untuk semua kelas/tingkatan.
Langkah-langkah :
1.         Siswa dikelompokkan ke dalam 4 anggota dalam satu tim
2.         Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda
3.         Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan
4.         Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka

5.         Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh
6.         Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
7.         Guru memberi evaluasi
8.         Penutup

10.          ARTIKULASI
Langkah-langkah :
1.         Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
2.         Guru menyajikan materi sebagaimana biasa
3.         Untuk mengetahui daya serap siswa, bentuklah kelompok berpasangan dua orang
4.         Suruhlah seorang dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya
5.         Suruh siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya. Sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya
6.         Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami siswa
7.         Kesimpulan/penutup

11.          MIND MAPPING
Model ini sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal siswa atau untuk menemukan alternatif jawaban.
Langkah-langkah :
1.         Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2.         Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa/sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban.
3.         Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang.
4.         Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi.
5.         Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru.
6.         Dari data-data di papan siswa diminta membuat kesimpulan atau guru memberi bandingan sesuai konsep yang disediakan guru.

12.          MAKE - A MATCH (MENCARI PASANGAN)
Model ini merupakan model pembelajaran dengan cara mencari pasangan, yang dikembangkan oleh Lorna Curran tahun 1994. Salah satu keunggulan model ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Model ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.
Langkah-langkah :
1.       Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban
2.       Setiap siswa mendapat satu buah kartu
3.       Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang
4.       Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban)
5.       Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin
6.       Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya
7.       Demikian seterusnya
8.       Kesimpulan/penutup

13.            THINK-PAIR AND SHARE
Model ini dikembangkan oleh Frank Lyman tahun 1985. Model ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan lain dari model ini adalah optimalisasi partisipasi siswa.
Langkah-langkah :
1.       Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai
2.       Siswa diminta untuk berfikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru
3.       Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing
4.       Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya
5.       Berawal dari kegiatan tersebut mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diuangkapkan para siswa
6.       Guru memberi kesimpulan
7.       Penutup

14.            BERPIKIR-BERPASANGAN-BEREMPAT
Model belajar mengajar Berpikir-Berpasangan-Berempat dikembangkan oleh Frank Lyman (Thyng-Pair-Share) dan Spencer Kagan (Thing-Pair-Square) sebagai struktur kegiatan pembelajaran cooperative learning. Dengan metode klasikal yang memungkinkan hanya satu siswa maju dan membagikan hasilnya untuk seluruh kelas, model ini memberikan kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada setiap siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain. Model ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.
Langkah-langkah :
1.       Guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan memberikan tugas kepada semua kelompok.
2.       Setiap siswa memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut sendiri.
3.       Siswa berpasangan dengan salah satu rekan dalam kelompok dan berdiskusi dengan pasangannya.
4.       Kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompok berempat. Siswa mempunyai kesempatan untuk membagikan hasil kerjanya kepada kelompok berempat.

15.            BARKIRIM SALAM DAN SOAL
Model belajar mengajar Berkirim Salam dan Soal memberikan siswa kesempatan untuk melatih pengetahuan dan keterampilan mereka. Siswa membuat pertanyaan sendiri, sehingga akan merasa lebih terdorong untuk belajar dan menjawab pertanyaan yang dibuat oleh teman-teman sekelasnya.
Kegiatan Berkirim Salam dan Soal ini cocok untuk persiapan menjelang tes dan ujian. Model ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.
Langkah-langkah :
1.       Guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan setiap kelompok ditugaskan untuk menuliskan beberapa pertanyaan yang akan dikirimkan ke kelompok yang lain. Guru bisa mengawasi dan membantu memilih soal-soal yang cocok.
2.       Kemudain, masing-masing kelompok mengirimkan satu orang utusan yang akan menyampaikan salam dan soal dari kelompoknya (Salam kelompok bisa berupa sorak kelompok).
3.       Setiap kelompok mengerjakan soal kiriman dari kelompok lain.
4.       Setelah selesai, jawaban masing-masing kelompok dicocokkan dengan jawaban kelompok yang membuat soal.

16.            BERCERITA BERPASANGAN (PAIRED STORYTELLING)
Model ini dikembangkan sebagai pendekatan interaktif antara siswa, pengajar, dan bahan pelajaran. Model bercerita berpasangan ini menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan, ataupun berbicara. Dalam kegiatan ini, siswa dirangsang untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan berimajinasi. Buah pikiran mereka akan dihargai, sehingga siswa merasa makin terdorong untuk belajar. Selain itu,  siswa bekerja dengan sesame siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan dalam berkomunikasi.
Langkah-langkah :
1.       Guru membagikan bahan pelajaran yang akan diberikan menjadi dua bagian.
2.       Sebelum bahan pelajaran diberikan, guru memberikan pengenalan mengenai topik
 yang akan dibahas dalam bahan pelajaran untuk hari itu. Guru bisa menuliskan topik di papan tulis dan menanyakan apa yang siswa ketahui mengenai topik tersebut. Kegiatan brainstorming ini dimaksudkan untuk mengaktifkan siswa agar lebih siap menghadapi bahan pelajaran yang baru. Dalam kegiatan ini, guru perlu menekankan bahwa memberikan tebakan yang benar bukanlah tujuannya. Yang lebih penting adalah kesiapan mereka dalam mengantisipasi bahan pelajaran yang akan diberikan hari itu.
3.       Siswa dipasangkan.
4.       Bagian pertama bahan diberikan kepada siswa yang pertama, sedangkan siswa yang kedua menerima bagian yang kedua.
5.       Kemudian siswa disuruh membaca atau mendengarkan (dalam pelajaran di laboratorium bahasa) bagian mereka masing-masing.
6.       Sambil membaca/mendengarkan, siswa disuruh mencatat dan mendaftar beberapa kata/frasa kunci yang ada dalam bagian masing-masing. Jumlah kata/frasa bisa disesuaikan dengan panjangnya teks bacaan.
7.       Setelah selesai membaca, siswa saling menukar daftar kata/frasa kunci dengan pasangan masing-masing.
8.       Sambil mengingat-ingat/memperhatikan bagian yang telah dibaca/didengarkan sendiri, masing-masing siswa berusaha untuk mengarang  bagian lain yang belum dibaca/didengarkan (yang sudah dibaca/didengarkan pasangannya) berdasarkan kata-kata/frasa-frasakunci dari pasangannya. Siswa yang telah membaca/mendengarkan bagian yang pertama berusaha untuk menuliskan apa yang terjadi selanjutnya. Sedangkan siswa yang membaca/mendengarkan bagian yang kedua menuliskan apa yang terjadi sebelumnya.
9.       Tentu saja, versi karangan sendiri tidak harus sama dengan bahan yang sebenarnya. Tujuan kegiatan ini bukan untuk mendapatkan jawaban yang benar, melainkan untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar dan mengajar. Setelah selesai menulis, beberapa siswa diberikan kesempatan untuk membacakan hasil karangan mereka.
10.   Kemudian, guru membagikan bagian cerita yang belum terbaca kepada masing-masing siswa. Siswa membaca bagian tersebut.
11.   Kegiatan ini bisa diakhiri dengan diskusi mengenai topic dalam bahan pelajaran hari itu. Diskusi bisa dilakukan antara pasangan atau dengan seluruh kelas.

17.            KANCING GEMERINCING
Model pembelajaran  Kancing Gemerincing dikembangkan oleh Spencer Kagan tahun1992. Dalam kegiatan Kancing Gemerincing ini masing-masing anggota kelompok mendapatkan kesempatan untuk memberikan kontribusi mereka dan mendengarkan pandangan dan pemikiran anggota lain. Keunggulan lain dari model ini adalah untuk mengatasi hambatan pemerataan kesempatan yang sering mewarnai kerja kelompok. Dalam banyak kelompok, sering ada siswa yang terlalu dominan dan banyak bicara. Sebaliknya, juga ada siswa yang pasif dan pasrah saja pada rekannya yang lebih dominan. Dalam situasi seperti ini, pemerataan tanggung jawab dalam kelompok bisa tidak tercapai karena siswa yang pasif akan terlalu menggantungkan diri pada rekannya yang dominan. Model belajar mengajar Kancing Gemerincing memastikan bahwa setiap siswa mendapatkan kesempatan yang sama untuk berperan serta secara aktif  di dalam pembelajaran.
Langkah-langkah:
1.       Guru menyiapkan satu kotak kecil yang berisi kancing-kancing (bisa juga benda-benda kecil lainnya seperti kacang merah, biji kenari, potongan sedotan, batang-batang lidi, sendok es krim, dan sebagainya).
2.       Sebelum kelompok memulai tugasnya, setiap siswa dalam masing-masing keloopok mendapat dua atau tiga buah kancing (jumlah kancing bergantung bergantung pada sukar tidaknya tugas yang diberikan).
3.       Setiap kali seorang siswa berbicara atau mengeluarkan pendapat, dia harus menyerahkan salah satu kancingnya dan meletakkannya di tengah-tengah.
4.       Jika kancing yang dimiliki seorang siswa habis, dia tidak boleh berbicara lagi sampai semua rekannya juga menghabiskan kancing mereka.
5.       Jika semua kancing sudah habis, sedangkan tugas belum selesai, kelompok boleh mengambil kesepakatan untuk membagi-bagi kancing lagi dan mengulangi prosedurnya kembali.

18.            DEBATE
Langkah-langkah :
1.       Guru membagi 2 kelompok peserta debat yang satu pro dan yg lainnya kontra
2.       Guru memberikan tugas untuk membaca materiyang akan didebatkan oleh kedua kelompok diatas
3.       Setelah selesai membaca materi. Guru menunjuk salah satu anggotanya kelompok pro untuk berbicara saat itu ditanggapi atau dibalas oleh kelompok kontra demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa bisa mengemukakan pendapatnya.
4.       Sementara siswa menyampaikan gagasannya guru menulis guru menulis inti/ide-ide dari setiap pembicaraan di papan tulis. Sampai sejumlah ide yang diharapkan guru terpenuhi
5.       Guru menambahkan konsep/ide yang belum terungkap
6.       Dari data-data di papan tersebut, guru mengajak siswa membuat kesimpulan/rangkuman yang mengacu pada topik yang ingin dicapai.

19.            ROLE PLAYING
Langkah-langkah :
1.    Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan
2.    Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dua hari sebelum kbm
3.    Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya 5 orang
4.    Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai
5.    Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan
6.    Masing-masing siswa duduk di kelompoknya, masing-masing sambil memperhatikan mengamati skenario yang sedang diperagakan
7.    Setelah selesai dipentaskan, masing-masing siswa diberikan kertas sebagai lembar kerja untuk membahas
8.    Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya
9.    Guru memberikan kesimpulan secara umum
10.   Evaluasi
11.   Penutup

20.            GROUP INVESTIGATION
Model pembelajaran ini dikembangkan oleh Sharan tahun 1992.
Langkah-langkah :
1.       Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen
2.       Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok
3.       Guru memanggil ketua-ketua untuk satu materi tugas sehingga satu kelompok mendapat tugas satu materi/tugas yang berbeda dari kelompok lain
4.       Masing-masing kelompok membahas materi yang sudah ada secara kooperatif berisi penemuan
5.       Setelah selesai diskusi, lewat juru bicara, ketua menyampaikan hasil pembahasan kelompok
6.       Guru memberikan penjelasan singkat sekaligus memberi kesimpulan
7.       Evaluasi
8.       Penutup

21.            TALKING STIK
Langkah-langkah :
1.       Guru menyiapkan sebuah tongkat
2.       Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk untuk membaca dan mempelajari materi pada pegangannya/paketnya
3.       Setelah selesai membaca buku dan mempelajarinya mempersilahkan siswa untuk menutup bukunya
4.       Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru
5.       Guru memberikan kesimpulan
6.       Evaluasi
7.       Penutup

22.            BERTUKAR PASANGAN
Model belajar mengajar Bertukar Pasangan memberikan siswa kesempatan untuk bekerja sama dengan orng lain. Model ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.
Langkah-langkah :
1.       Setiap siswa mendapat satu pasangan (guru biasa menunjukkan pasangannya atau siswa menunjukkan pasangannya
2.       Guru memberikan tugas dan siswa mengerjakan tugas dengan pasangannya
3.       Setelah selesai setiap pasangan bergabungdengan satu pasangan yang lain
4.       Kedua pasangan tersebut bertukar pasangan masing-masing pasangan yang baru ini saling menanyakan dan mengukuhkan jawaban mereka
5.       Temuan baru yang didapat dari pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada pasangan semula.

23.            SNOWBALL THROWING
Langkah-langkah :
1.       Guru menyampaikan materi yang akan disajikan
2.       Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi
3.       Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya
4.       Kemudian masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja, untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok
5.       Kemudian kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama ± 15 menit
6.       Setelah siswa dapat satu bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian
7.       Evaluasi
8.       Penutup

24.            STUDENT FACILITATOR AND EXPLAINING
Merupakan model pembelajaran yang siswa/peserta mempresentasikan ide/pendapat pada rekan peserta lainnya.
Langkah-langkah :
1.       Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
2.       Guru mendemonstrasikan/menyajikan materi
3.       Memberikan kesempatan siswa/peserta untuk menjelaskan kepada peserta untuk menjelaskan kepada peserta lainnya baik melalui bagan/peta konsep maupun yang lainnya
4.       Guru menyimpulkan ide/pendapat dari siswa
5.       Guru menerangkan semua materi yang disajikan saat itu
6.       Penutup

25.            COURSE REVIEW HORAY
Langkah-langkah :
1.       Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
2.       Guru mendemonstrasikan/menyajikan materi
3.       Memberikan kesempatan siswa tanya jawab
4.       Untuk menguji pemahaman, siswa disuruh membuat kotak 9/16/25 sesuai dengan kebutuhan dan tiap kotak diisi angka sesuai dengan seler masing-masing siswa
5.       Guru membaca soal secara acak dan siswa menulis jawaban di dalam kotak yang nomornya disebutkan guru dan langsung didiskusikan, kalau benar diisi tanda benar (Ö) dan salan diisi tanda silang (x)
6.       Siswa yang sudah mendapat tanda Ö vertikal atau horisontal, atau diagonal harus berteriak horay … atau yel-yel lainnya
7.       Nilai siswa dihitung dari jawaban benar jumlah horay yang diperoleh
8.       Penutup

26.            COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC)
Merupakan model pembelajaran yang memadukan antara membaca dan menulis yang dikembangkan oleh Steven dan Slavin pada tahun 1995.
Langkah-langkah :
1.       Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen
2.       Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran
3.       Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas
4.       Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok
5.       Guru membuat kesimpulan bersama
6.       Penutup

27.            INSIDE-OUTSIDE-CIRCLE (LINGKARAN KECIL LINGKARAN BESAR)
Merupakan model pembelajaran lingkaran kecil-lingkaran besar yang dikembangkan oleh Spencer Kagan. Siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan, dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur.
Langkah-langkah :
1.       Separuh kelas berdiri membentuk lingkaran kecil dan menghadap keluar
2.       Separuh kelas lainnya membentuk lingkaran di luar lingkaran pertama, menghadap ke dalam.
3.       Dua siswa yang berpasangan dari lingkaran kecil dan besar berbagi informasi. Pertukaran informasi ini bisa dilakukan oleh semua pasangan dalam waktu yang bersamaan.
4.       Kemudian siswa berada di lingkaran kecil diam di tempat, sementara siswa yang berada di lingkaran besar bergeser satu atau dua langkah searah jarum jam.
5.       Sekarang giliran siswa berada di lingkaran besar yang membagi informasi. Demikian seterusnya.

28.            TEBAK KATA
Persiapan alat :
1.       Buat kartu ukuran 10X10 cm dan isilah ciri-ciri atau kata-kata lainnya yang mengarah pada jawaban (istilah) pada kartu yang ingin ditebak.
2.       Buat kartu ukuran 5X2 cm untuk menulis kata-kata atau istilah yang mau ditebak (kartu ini nanti dilipat dan ditempel pada dahi atau diselipkan ditelinga.
Langkah-langkah :
1.       Jelaskan TPK atau materi ± 45 menit
2.       Suruhlah siswa berdiri didepan kelas dan berpasangan
3.       Seorang siswa diberi kartu yang berukuran 10x10 cm yang nanti dibacakan pada pasangannya. Seorang siswa yang lainnya diberi kartu yang berukuran 5x2 cm yang isinya tidak boleh dibaca (dilipat) kemudian ditempelkan di dahi atau diselipkan ditelinga.
4.       Sementara siswa membawa kartu 10x10 cm membacakan kata-kata yang tertulis didalamnya sementara pasangannya menebak apa yang dimaksud dalam kartu 10x10 cm. jawaban tepat bila sesuai dengan isi kartu yang ditempelkan di dahi atau telinga.
5.       Apabila jawabannya tepat (sesuai yang tertulis di kartu) maka pasangan itu boleh duduk. Bila belum tepat pada waktu yang telah ditetapkan boleh mengarahkan dengan kata-kata lain asal jangan langsung memberi jawabannya.
Dan seterusnya.
CONTOH KARTU
Perusahaan ini tanggung-jawabnya tidak terbatas
Dimiliki oleh 1 orang
Struktur organisasinya tidak resmi
Bila untung dimiliki,diambil sendiri
        NAH … SIAPA … AKU ?
        JAWABNYA :   PERUSAHAAN  PERSEORANGAN

29.            SCRAMBLE
Persiapan Alat :
1. Buatlah pertanyaan yang sesuai dengan KD atau indikator
2. Buat jawaban yang diacak hurufnya
      Langkah-langkah :
1.       Guru menyajikan materi sesuai KD atau indikator
2.       Membagikan lembar kerja sesuai contoh
Susunlah huruf-huruf pada kolom sehingga merupakan kata kunci (jawaban) dari pertanyaan kolom A.
Kolom A
1.  Sebelum mengenal uang orang melakukan pertukaran dengan cara …
2.  ... digunakan sebagai alat pembayaran yang sah
3.  Uang ... saat ini banyak dipalsukan
4.  Nilai bahan pembuatan uang disebut nilai ...
5.  Kemampuan uang untuk ditukar dengan sejumlah barang atau jasa disebut nilai ...
6.  Nilai perbandingan uang dalam negeri dengan mata uang asing disebut ...
7.  Nilai yang tertulis pada uang disebut nilai ...
8.  dorongan seseorang menyimpan uang untuk keperluan jual beli disebut ...
9.  perintah tertulis dari seseorang yang mempunyai rekening di    bank untuk membayar sejumlah uang disebut ...
Kolom B
1.       TARREB ..................................
2.       GANU .......................................
3.       TRASEK ....................................
4.       KISTRINI ....................................
5.       LIRI .............................................
6.       SRUK .......................................
7.       MINALON ...............................
8.           SAKSITRAN ..............................
9.           KEC ..........................................

30.            CONSEPT SENTENSE
Langkah-langkah :
1.       Guru menyampaikan kompentensi yang ingin dicapai
2.       Guru menyajikan materi secukupnya
3.       Guru membentuk kelompok yang anggotanya ± 4 orang secara heterogen
4.       Menyajikan beberapa kata kunci sesuai materi yang disajikan
5.       Tiap kelompok disuruh membuat beberapa kalimat dengan menggunakan minimal 4 kata kunci setiap kalimat
6.       Hasil diskusi kelompok. Didiskusikan lagi secara pleno yang dipandu Guru
7.       Kesimpulan

31.            TAKE AND GIVE
MEDIA :
1.       Kartu ukuran ± 10x15 cm sejumlah peserta tiap kartu berisi sub materi (yang berbeda dengan kartu yang lainnya, materi sesuai dengan TPK
2.       Kartu contoh sejumlah siswa
CONTOH Kartu :
NAMA SISWA :
SUB MATERI  :
NAMA YANG DIBERI
1.
2
3.
4. dst.
              Langkah-langkah :
1.       Siapkan kelas sebagaimana mestinya
2.       Jelaskan materi sesuai TPK
3.       Untuk memantapkan penguasaan peserta tiap siswa diberi masing-masing satu kartu untuk dipelajari (dihapal) lebih kurang 5 menit
4.       Semua siswa disuruh berdiri dan mencari pasangan untuk saling menginformasi. Tiap siswa harus mencatat nama pasangannya pada kartu contoh
5.       Demikian seterusnya sampai tiap peserta dapat saling memberi dan menerima materi masing-masing (take and give)
6.       Untuk mengevaluasi keberhasilan berikan berikan siswa pertanyaan yang tak sesuai dengan kartunya (kartu orang lain)
7.       Strategi ini dapat dimodifikasi sesuai keadaan
8.       Kesimpulan

32.            COMPLETTE SENTENSE
Media : Siapkan blangko isian berupa paragraf yang kalimatnya belum lengkap
              Langkah-langkah :
1.       Guru menyampaikan yang ingin dicapai
2.       Menyampaikan materi secukupnya atau peserta disuruh membacakan buku atau model dengan waktu secukupnya
3.       Bentuk kelompok 2 atau 3 orang secara heterogen
4.       Bagikan lembar kerja berupa paragraf yang kalimatnya belum lengkap (lihat contoh)
5.       Peserta diharap berdiskusi untuk melengkapi kalimat dengan kunci jawaban yang tersedia
6.       Bicarakan bersama-sama anggota kelompok
7.       Setelah jawaban benar yang salah diperbaiki. Tiap peserta disuruh membaca berulang-ulang sampai mengerti atau hapal
8.       Kesimpulan

33.            TIME TOKEN
Merupakan model pembelajaran  berdasarkan truktur yang dapat digunakan untuk mengajarkan keterampilan sosial, untuk menghindari siswa mendominasi pembicaraan atau siswa diam sama sekali. Model pembelajaran ini dikembangkan oleh Arends tahun 1998.
              Langkah-langkah :
1.       Kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi (cooperative learning / CL)
2.       Tiap siswa diberi kupon berbicara dengan waktu ± 30 detik. Tiap siswa diberi sejumlah nilai sesuai waktu keadaan
3.       Bila telah selesai bicara kopon yang dipegang siswa diserahkan. Setiap bebicara satu kupon
4.       Siswa yang telah habis kuponnya tak boleh bicara lagi. Yang masih pegang kupon harus bicara sampai kuponnya habis
5.       Dan seterusnya

34.            PAIR CHEKS
Model pembelajaran ini dikembangkan oleh Spencer Kagen tahun 1993.
              Langkah-langkah :
1.    BEKERJA BERPASANGAN
        Bentuk tim dalam pasangan-pasangan dua siswa dalam pasangan itu mengerjakan soal yang pas sebab semua itu akan membantu melatih
2.       PELATIH MENGECEK
        Apabila patner benar pelatih memberi kupon
3.       BERTUKAR PERAN
        Seluruh patner bertukar peran dan mengurangi langkah 1 – 3
4.       PASANGAN MENGECEK
        Seluruh pasangan tim kembali bersama dan membandingkan jawaban
5.       PENEGASAN GURU
        Guru mengarahkan jawaban /ide sesuai konsep

35.            KELILING KELOMPOK
Model pembelajaran ini bermaksud agar masing-masing anggota kelompok mendapat kesempatan untuk memberikan kontribusi mereka dan mendengarkan pandangan dan pemikiran anggota lainnya.
Langkah-langkah :
1.    Salah satu siswa dalam masing-masing kelompok menilai dengan memberikan pandangan dan pemikirannya mengenai tugas yang sedang mereka kerjakan
2.    Siswa berikutnya juga ikut memberikan kontribusinya
3.    Demikian seterusnya giliran bicara bisa dilaksanakan arah perputaran jarum jam atau dari kiri ke kanan.

36.            TARI BAMBU
Model pembelajaran ini bertujuan agar siswa saling berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dalam waktu singkat secara teratur strategi ini cocok untuk materi yang membutuhkan pertukaran pengalaman pikiran dan informasi antar siswa.
              Langkah-langkah :
1.    Separuh kelas atau seperempat jika jumlah siswa terlalu banyak berdiri berjajar . Jika ada cukup ruang mereka bisa berjajar di depan kelas. Kemungkinan lain adalah siswa berjajar di sela-sela deretan bangku. Cara yang kedua ini akan memudahkan pembentukan kelompok karena diperlukan waktu relatif singkat.
2.       Separuh kelas lainnya berjajar dan menghadap jajaran yang pertama
3.       Dua siswa yang berpasangan dari kedua jajaran berbagi sinformasi.
4.       Kemudian satu atau dua siswa yang berdiri di ujung salah satu jajaran pindah ke ujung lainnya di jajarannya. Jajaran ini kemudian bergeser. Dengan cara ini masing-masing siswa mendapat pasangan yang baru untuk berbagi. Pergeseran bisa dilakukan terus sesuai dengan kebutuhan.

37.            DUA TINGGAL DUA TAMU (TWO STAY-TWO STRAY)
Model pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi dengan kelompok lain. Model ini dikembangkan oleh Spencer Kagen tahun 1992. Model ini bisa digunakan bersama dengan model Kepala Bernomor.
              Langkah-langkah :
1.       Siswa bekerja sama dalam kelompok berempat seperti biasa
2.       Setelah selesai, dua orang dari masing-masing bertamu kedua kelompok yang lain
3.         Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu mereka
4.         Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain
5.       Kelompok mencocokkan dan membahas hasil kerja mereka

38.            TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT)
Langkah-langkah:
1.       Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan mekanisme kegiatan dan setiap kelompok mempunyai tugas bisa sama atau berbeda.
2.       Siapkan meja turnamen secukupnya, missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara, meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah. Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesepakatan kelompok.
3.       Selanjutnya adalah opelaksanaan turnamen, setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu terttentu (misal 3 menit).
Siswa bisa mengerjakan lebih dari satu soal dan hasilnya diperiksa dan dinilai, sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal.
4.       Siswa pada tiap meja tunamen sesua dengan skor yang diperolehnya diberikan sebutan (gelar) superior, very good, good, medium.
5.       Bumping, pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketiga-keempat dst.), dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi, siswa superior dalam kelompok meja turnamen yang sama, begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama.
6.       Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual, berikan penghargaan kelompok dan individual.

39.            TEAM ASSISTED INDIVIDUALLY (TAI)
Model pembelajaran ini berarti  Bantuan Individual dalam Kelompok (Bidak) dengan karateristik bahwa (Driver, 1980) tanggung jawab belajar adalah pada siswa. Oleh karena itu siswa harus membangun pengetahuan tidak menerima bentuk jadi dari guru. Pola komunikasi guru-siswa adalah negosiasi dan bukan imposisi-intruksi. Model ini dikembangkan oleh Slavin tahun 1985.
Langkah-langkah :
1.       Buat kelompok heterogen dan berikan bahan ajar berupa modul.
2.       Siswa belajar kelompok dengan dibatu oleh siswa pandai anggota kelompok secara individual, saling tukar jawaban, saling berbagi sehingga terjadi diskusi.
3.       Penghargaan kelompok dan refleksi serta tes formatif.

40.            CREATIVE PROBLEM SOLVING (CPS)
Model ini merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan
               Langkah-langkah :
1.       Suatu permasalahan diambil dari fakta aktual sesuai dengan materi bahan ajar melalui tanya jawab lisan.
2.       Identifikasi permasalahan dan fokus-pilih.
3.       Mengolah pikiran sehingga muncul gagasan orisinil untuk menentukan solusi.
4.       Presentasi dan diskusi.

41.            MEANS-ENDS ANALYSIS (MEA)
Model ini merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah.
              Langkah-langkah :
1.       Sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasisis heuristic.
2.       Elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana.
3.       Indentifikasi perbedaan.
4.       Susun sub-sub masalah sehingga terjadi koneksivitas.
5.       Pilih strategi solusi yang tepat.

42.            DOUBLE LOOP PROBLEM SOLVING (DLPS)
Model pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama dari timbulnya masalah, jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa. Selanjutnya menyelesaikan masalah tersebut dengan cara menghilangkan gap yang menyebabkan munculnya masalah tersebut.
Langkah-langkah :
1.       Indentifikasi permasalahan, deteksi kausal, solusi sementara, pertimbangan solusi, analisis kausal, deteksi kausal lain dan rencana solusi yang terpilih.
2.       Langkah penyelesaian masalah : menuliskan pernyataan masalah awal, mengelompokkan gejala, menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi, mengindentifikasi kausal, implementasi solusi, indentifikasi kausal utama.
3.       Menemukan pilihan solusi utama.
4.       Implementasi solusi utama.

43.            LOGAN AVENUE PROBLEM SOLVING (LAPS-HEURISTIC)
Heuristik  adalah rangkaian pertanyaan yang bersifat tuntunan dalam rangaka solusi masalah. LAPS ( Logan Avenue Problem Solving) dengan kata Tanya apa masalahnya, adakah alternative, apakah bermanfaat, apakah solusinya, dan bagaimana sebaiknya mengerjakannya.
Langkah-langkah :
1.       Pemahaman masalah.
2.       Rencana
3.       Solusi
4.       Pengecekan





Tidak ada komentar:

Posting Komentar